Kemenangan Muenchen Tak Lepas dari Peran Heynckes

Kemenangan Muenchen Tak Lepas dari Peran Heynckes

Kemenangan Muenchen Tak Lepas dari Peran Heynckes

FC Bayern Muenchen akhirnya resmi merebut gelar Bundesliga keenam beruntun atau ke-28 total, titel terbanyak di kompetisi kasta tertinggi Jerman. Kemenangan 4-1 di kandang FC Augsburg pada laga Bundesliga pekan ke-29, Sabtu (7/4) lalu, membuat Die Bayern mengoleksi 72 poin. Dengan keunggulan 20 poin, Muenchen tidak lagi mungkin mampu dikejar rival terdekat, FC Schalke 04, karena Bundesliga tinggal menyisakan lima pertandingan (maksimal 15 poin yang mampu diraih).

 

Keberhasilan Muenchen merebut gelar Bundesliga tidak lepas dari peran Jupp Heynckes. Pelatih 72 tahun itu sebetulnya sudah pensiun sejak mengantar Die Bayern merebut treble (juara Bundesliga, Liga Champions, dan Piala Jerman) pada 2013. Namun, Muenchen mampu membujuknya untuk kembali melatih pada awal Oktober lalu menggantikan Carlo Ancelotti yang dipecat. Keputusan Muenchen menunjuk Heynckes sebagai pelatih untuk kali keempat (sebelumnya pada 1987-1991, 2009, dan 2011-2013) terbukti tepat. Setelah sempat tertinggal lima poin dari rival abadi di Bundesliga, Borussia Dortmund, Muenchen langsung tancap gas.

 

Heynckes mampu membawa Muenchen memenangi 28 dari 31 pertandingan di semua ajang. Usai menang 2-1 atas Sevilla FC di leg pertama perempat final Liga Champions, Heynckes pun mengukir rekor sebagai satu-satunya pelatih yang mampu memenangi 12 pertandingan beruntun kompetisi antarklub paling elite Eropa tersebut.

 

Sebetulnya, apa kuncis sukses Heynckes mampu membuat Muenchen kembali menakutkan setelah sempat terpuruk di awal musim ini? Pertama, manajemen pemain. Di masa Ancelotti, pesepak bola sekaliber Thomas Mueller, pemain dengan kemampuan membaca celah atau ruang untuk membuat gol (dikenal dengan istilah raumdeuter) terbaik dunia saat ini, pun dijadikan cadangan. Mueller dibuat bingung karena tidak mengerti apa yang diinginkan Ancelotti darinya. Kekuatan Heynckes adalah tampil apa adanya. Pemain tahu ia tipe pelatih yang memilih pemain berikut posisinya berdasarkan performa. Ia juga dikenal selalu berusaha membuat senang semua pihak, utamanya pemain.

 

Bersama Heynckes, Mueller kembali menemukan kepercayaan diri dan produktivitas. Pemain baru seperti James Rodriguez juga tidak keberatan dimainkan bukan di posisi naturalnya. Faktor kedua, disiplin. Heynckes tipe pelatih yang sangat mengutamakan kebersamaan dan mengedepankan spirit tim. Karisma yang dimiliki Heynckes membuat para pemain segan terhadap semua kebijakan, termasuk penerapan disiplin ketat. Terakhir, memaksimalkan taktik dengan perubahan sesedikit mungkin. Perubahan kecil tapi berpengaruh sangat signifikan adalah posisi Javi Martinez. Bila di masa Ancelotti pemain Spanyol, 29 tahun, itu “dipaksa” menjadi bek tengah, Heynckes memajukan posisinya sedikit ke depan menjadi gelandang bertahan.

Hasilnya, kestabilan lini tengah Muenchen semakin bagus. Alur serangan lawan bisa langsung dipatahkan karena karakter dan kemampuan para gelandang Muenchen lebih tereksplorasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: