Menanti Tuah Pergantian Hafalan Nilmaizar

Menanti Tuah Pergantian Hafalan Nilmaizar

Semen Padang tak banyak mengubah skuat menuju Liga 1. Nilmaizar juga bisa melakukan berbagai opsi pergantian yang sudah direncanakan.

Sejak kembali ke level tertinggi di kompetisi sepakbola Indonesia, Semen Padang langsung menjelma sebagai tim kuda hitam. Itu terlihat dari pencapaian kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim 2010/2011 dengan finis di poisi 4.

Periode itu sekaligus jadi musim pertama Nilmaizar menjabat sebagai pelatih kepala Semen Padang. Sebelumnya, dia menjadi asisten pelatih Arcan Iurie–pelatih yang bawa Semen Padang promosi ke ISL.

Di musim selanjutnya, saat dualisme sepakbola Indonesia, Semen Padang keluar dari ISL dan ikut bergabung dengan Indonesia Premier League (IPL), yang saat itu jadi kompetisi resmi di Tanah Air.

Pilihan Semen Padang pun tepat. Klub asal Sumatra Barat tersebut keluar sebagai juara. Mereka berhak mengantongi tiket ke Piala AFC untuk pertama kalinya, namun harus terhenti di babak perempatfinal setelah kalah agregat 1-2 dari Est Bengal.

Pencapaian apik Semen Padang tidak sampai di situ. Saat kompetisi di Indonesia sudah tak ada dualisme, mereka kembali ke ISL selaku kompetisi resmi.

Di sana tim berjuluk Kabau Sirah itu kembali memperlihatkan diri sebagai tim kuda hitam dengan deretan pemain lokal yang namanya tak tenar-tenar amat. Skuat Nilmaizar mampu masuk babak delapan besar setelah finis di posisi tiga dalam klasemen ISL Wilayah Barat.

Namun, di fase itu Semen Padang gagal keluar dari Grup A untuk melaju ke babak semifinal. Tim besutan Nilmaizar itu hanya finis di posisi tiga dari empat tim dengan poin 10.

Di musim selanjutnya, kompetisi di Indonesia kembali bermasalah. Kemenpora membekukan PSSI yang berbuntut terhentinya ISL dan pemberian sanksi dari FIFA akibat intervensi pemerintah.

Selama kompetisi berhenti, pemerintah menyelenggarakan berbagai turnamen untuk menghidupkan gairah sepakbola Indonesia. Semen Padang tercatat ambil bagian di turnamen Piala Jenderal Sudirman dan Piala Presiden 2017, serta kompetisi sementara Indonesia Soccer Championship.

Untuk di ajang Piala Jenderal Sudirman, Semen Padang keluar sebagai runner-up, setelah sebelumnya nyaris tak lolos dari babak grup. Sedangkan di Piala Presiden, mereka hanya meraih poisi keempat usai kalah 0-1 dari Persib Bandung di perebutan tempat ketiga.

Kini, jelang tampil di Liga 1, Semen Padang sudah semakin mantap dengan skuatnya. Daftar pemain Kabau Sirah di Liga 1 nyaris sama seperti saat tampil di Piala Presiden.

Permainan Semen Padang terbilang mudah diterka. Dengan mengandalakan pola 4-4-2, Nilmaizar kerap melakukan pergantian yang template alias itu lagi, itu lagi seperti sebuah hafalan.

Semasa di IPL 2011/2012, Nil akan menarik Elie Aiboy di menit 60 untuk memasukan Mustafa Aji di sektor sayap kanan. Sedangkan di lini depan, Ferdinand Sinaga akan diganti dengan Suheri Daud. Satu pergantian lagi kerap disisakan untuk antisipasi kemungkinan lain.

Pola seperti itu juga terlihat di ajang Piala Presiden 2017. Nil terbiasa memasukan Irsyad Maulana dan Riko Simanjuntak di babak kedua dengan menarik Adi Nugroho dan Kevin Ivander.

Namun, untuk pola pergantian di Piala Presiden sejatinya bisa dimaklumi. Sebab, Nil tengah menyesuaikan taktik terkait aturan di turnamen yang mewajibkan memainkan pemain muda selama 45 menit, yang kemudian jadi pakem dalam regulasi Liga 1.

Dengan aturan penerapan pemain muda yang tak jauh berbeda di Piala Presiden, seharusnya Semen Padang besutan Nilmaizar sudah jadi tim yang paling siap di Liga 1.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: